Peringatan terkini “Global Warming” kajian ilmuwan AS & Canada.
sue pemanasan global atau “global warming” menjadi topik yang hangat di AS menyusul penolakan Presiden Bush yang bersikap skeptis terhadap pernyataan kalangan ilmuwan tentang semakin intensnya pemanasan global serta prakiraan terjadinya perusakan habitat bumi yang lebih serius serta lebih cepat sebagai akibat efek pemanasan global. AS bersikukuh sebagai negara maju satu-satunya di dunia yang menolak mengikuti Kyoto Protocol – yakni forum kerja sama antar negara-negara dunia Internasional yang berupaya menanggulangi terjadinya pemanasan global dengan mengedepankan upaya mengurangi konsumsi bahan bakar minyak bumi atau energi yang berasal dari fosil.
Awal April y.l. Presiden Bush sempat membangkitkan polemik hangat ketika pemerintahnya berupaya menentang pencalonan Dr.R.T. Watson – seorang ilmuwan Amerika terpandang yang kritis – sebagai ketua IPCC : Intern-governmental Panel on Climate Change. IPCC adalah himpunan lebih dari 2500 ilmuwan terkemuka di seluruh dunia yang bersama-sama tengah melakukan studi tentang perubahan iklim global khususnya dalam mengantisipasi “global warming”. Bagi pemerintah AS Dr. Watson dianggap terlalu melebih-lebihkan fakta mengenai isue pemanasan global dan sangat menyudutkan kalangan industri raksasa bidang energi, semisal Exxon.
Bulan Januari 2002 IPCC telah mempublikasikan bagian pertama dari penelitian bertajuk “global warming” yang mengungkapkan, a.l.: suhu atmosfir bumi diperkirakan akan meningkat mencapai 10.4 derajat Fahrenheit dalam jangka 100 tahun kedepan. Prakiraan ini menyiratkan terjadinya pemanasan yang lebih intens jika dibanding dengan efek pemanasan serupa yang terjadi sejak seabad yang lalu.
Lebih dari itu efek pemanasan yang menimpa bagi penghuni habitat bumi diperkirakan juga akan lebih memburuk, mulai dari kepunahan species serangga tertentu yang tidak dapat beradaptasi, kekeringan air atau sebaliknya banjir yang semakin parah di berbagai belahan dunia tertentu, kenaikan muka air laut akibat melumernya es di kutub bumi yang menimbulkan banjir hebat khususnya di negara dengan permukaan datar yang meluas seperti Bangladesh, ataupun terjadinya El-Nino yang frekwensinya lebih sering terjadi disertai efek yang lebih dahsyat pula.
Riset terkini penelitian Universitas Michigan yang bekerjasama dengan ilmuwan Canada memberikan satu lagi bukti ilmiah yang lebih menegaskan mengenai pemanasan global dengan mengkaji efeknya pada bebatuan inti bumi yang dideteksi pada lapisan kerak bumi di berbagai pelosok bumi. Hasil riset mutakhir ini memperlihatkan bahwa bukti pemanasan pada bebatuan dasar pembentuk benua – “continental rocks”- melengkapi komponen dalam sistem tata iklim bumi yang telah lebih banyak diteliti sejak lama, yakni : permukaan lautan, lapisan atmosfir bumi, dan permukaan es di muka bumi (“cryosphere”).
Seperti yang termuat dalam journal ilmiah Geophysical Research Letters edisi 15 April, Prof. Henry Pollack dari UM yang bekerja sama dengan ilmuwan Hugo Beltrami dari Universitas St.Francis Xavier di Nova Scotia, Canada menegaskan bahwa temuan yang terungkap dari penelitian ini menghapuskan keraguan yang ada sebelumnya tentang terjadinya pemanasan global yang sempurna atau mencakup pada seluruh komponen sistem iklim bumi, yaitu dengan pengamatan atas salah satu komponen penting dalam sistem iklim bumi : “continental rocks” yang merupakan hampir 30% dari seluruh total permukaan bumi.
Pendekatan sekian banyak riset mutakhir guna merekonstruksi sejarah pemanasan bumi selama periode 140 tahun terakhir kebanyakan mengabaikan pengamatan atas salah satu komponen penting dalam sistem iklim bumi : “continental rocks”.
Ilmuwan menyimpulkan hasil penelitian berdasar data penelitian dalam 616 titik pengeboran yang memperlihatkan temuan kenaikan dalam panas yang dikandung oleh bebatuan dasar pembentuk benua (“continental rocks”) selama 500 tahun yang lalu yang diselidiki di berbagai lokasi tersebar di benua Afrika, Amerika Selatan, Amerika Utara, Asia, Australia, dan Eropa. Hasil deteksi yang memperlihatkan bahwa lebih dari separuh kejadian pemanasan intens yang terjadi pada kurun waktu permulaan abad 20 y.l. dan hampir sepertiganya terkandung pada periode sejak tahun 1950-an.
Metoda penelitian yang dilakukan dengan pembacaan atas suhu pada peralatan thermometer berdaya ukur sensitif yang dimasukkan dalam lubang pemboran permukaan bumi sampai mencapai susunan lapisan cadas (“rock formation”) dalam perut bumi. Panas yang diserap melalui lapisan bebatuan di permukaan bumi dari atmosfir akan merambat perlahan ke dalam lapisan bebatuan permukaan dibawahnya dengan meninggalkan cirian efek yang berlainan menurut kedalaman lapis-lapis permukaan bebatuan bumi. Rekaman dari variasi pemanasan dalam periode harian atau musiman hanya akan penetrasi sampai kedalaman beberapa meter saja dari muka bumi lalu efek itu bisa dianggap “menghilang”. Lain halnya dengan efek pemanasan yang berlangsung selama ratusan tahun yang akan terekam pada lapisan bebatuan yang jauh lebih dalam dengan meninggalkan cirian pola pemanasan tertentu.
Ilmuwan AS dan Kanada pada akhirnya mengingatkan, bahwa secara mendasar intensitas suhu pemanasan yang terdeteksi pada batuan ”continental rocks” adalah sangat serupa dengan hasil studi dalam pola pemanasan pada atmosfir bumi, lautan, maupun lapisan muka es di bumi, hingga menunjukkan betapa seriusnya tingkat pemanasan global yang tengah berlangsung di seluruh muka bumi.
Loading...