Mengangkat Anoman Membidik Doraemon
Mungkin orang tak menyangka, Doraemon, Detektif Conan dan Pokemon dibuat di Bali. Bahkan, kartun Walt Disney, MGM, dan Warner Bros dibuat di Cikarang, Bekasi. Tapi, jangankan animator, nama perusahaan pembuat animasi itu saja tidak dicantumkan, dan tidak mendapat royalti, karena tidak membuat karya sejak awal hingga akhir. “Jadi, seperti tukang jahit saja,” kata Amarsyah, Direktur Asiana Wang Animation. Menurut Iga Mawarni, penyanyi yang pernah bergabung dengan Bening Uro-Uro, animator Indonesia masih berperan sebagai buruh, meski kualitasnya tak kalah dibanding produk luar. Wajar saja kalau raksasa kartun dunia lebih memilih Indonesia sebagai tukang jahitnya. Sebab untuk perusahaan lokal mematok tarif menggarap Doraemon berdurasi 24 menit, sekitar US$ 30.000. Jauh lebih murah dibanding Korea yang mematok US$ 90.000 dan Filipina US$ 40.000. Sayangnya, peran animator Indonesia dalam bisnis animasi dunia masih sangat minim. Menurut Wakil Ketua I Asosiasi Animasi Indonesia Daniel Harjanto, baru sekitar 0,1% dari total omset bisnis animasi dunia sebesar US$ 600 juta. Padahal, Indonesia berpotensi membuat animasi bermutu. Buktinya, animasi Cindelaras produksi Bening Uro-Uro pernah menyabet kategori art director terbaik pada sebuah Festival di Korea. Untuk itulah, T. Ratna, Direktur Utama Asiana, berniat menggali potensi animator lokal. Pihaknya mematenkan beberapa karyanya, seperti Naughty Dolly dan Anoman. Terbukalah lapangan kerja baru bagi animator berbakat. Untuk itu, Ratna berencana membuka studio sendiri dan membangun sekolah animasi. Ladang garapan para animator lokal masih terbentang luas. Mulai film kartun hingga bentuk lain, seperti identitas program atau identitas stasiun TV. Bahkan, penayangan iklan saat ini lebih banyak bermain animasi ketimbang pengambilan kamera secara langsung.
Loading...